Monday, August 24, 2009

Selebrasi tak Biasa Berba & Berlebihan Owen

Ada yang tak biasa yang dilakukan Dimitar Berbatov usai mencetak gol ke dua MU ke gawang Wigan pd gim ke-3 BPL 09/10 Sabtu kemarin. Striker Bulgaria yang selama ini bersikap 'seperti tidak terjadi apa-apa' usai bikin gol itu kemarin begitu emosional meluapkan kegembiraannya; berlari-lari ke arah suporter sembari berteriak dan mengayun-ayunkan kedua tangannya ke atas-ke bawah.

Entah apa yang memicu DB9 bertingkah seperti itu. Tp besar kemungkinan karena dia mencetak gol tersebut dengan cara yang eksepsional:

Berba me-chip bola umpan melewati Kirkland sesaat sebelum kiper Wigan tersebut berhasil mengamankannya...

..kemudian sembari bersalto, DB9 mem-volley bola 'tipis' saja, bukan langsung ke arah gawang lawan tetapi memantulkannya ke tanah terlebih dahulu...


..teknik yang terbukti brilian untuk menghindarkan bola dari hadangan postur kecil Figueroa, bek yang berinisiatif menggantikan Kirkland di bawah gawang setelah sang kiper maju menyongsong umpan kepada Berba sebelumnya.

Dan Berba merayakan gol itu lebih heboh dari kebiasaannya selama ini.

Atau bisa jadi DB9 begitu emosional karena gol tersebut otomatis membungkam kritik yang banyak dialamatkan pada United pascakekalahan di kandang Burnley pertengahan minggu kemarin.

Yang menarik, beberapa saat setelah selebrasi itu, kamera televisi menyorot close-up wajah Michael Owen yang malam itu didudukkan di bangku cadangan. Memantik api persaingan mengingat kedua striker memang 'hanya' diplot untuk bergantian mendampingi Wayne Rooney sebagai ujung tombak kembar musim ini, dan menjelang tandang ke Wigan keduanya belum mencetak sebiji gol pun? Yang jelas, Owen merespon 'tantangan' tersebut dengan sebuah gol beberapa saat setelah dirinya masuk menggantikan Rooney. Gol yang membuktikan insting maut yang masih dia miliki tersebut juga mendapat perayaan yang sedikit berlebihan dari sang kreator, mengingat sebelum gol tersebut tercipta MU sudah unggul 3-0.

Kegembiraan berlebihan karena merayakan gol pertama? Hmm...

Thursday, August 20, 2009

Imbas Tanpa CR7 Sudah Terasa di Pekan ke-2

Dalam tiga tahun terakhir, Cristiano Ronaldo jelas adalah aktor utama mengalirnya trofi demi trofi ke Old Trafford. Kepergian sang bintang musim ini tak terhindarkan lagi. Selain harga tinggi yang disodorkan Madrid, Ronaldo pun ditengarai sudah lama mengintip pintu keluar. Liga Spanyol rupanya sudah sejak dulu dia idam-idamkan. Buat apa menahan pemain dengan motivasi seperti itu, terutama karena memang tidak ada pemain yang lebih besar dari Manchester United!

Untuk menutupi kepergiannya (plus Tevez yang juga hijrah ke Manchester City), Sir Alex sebenarnya sudah melakukan pembelian yang 'memadai'. Kedatangan Valencia, Owen dan Obertan di awal musim serta akan mendaratnya 2 bintang muda (Adem Llajic dan Biram Diouf) pada Januari 2010 adalah alasan kenapa United harus tetap yakin mampu merebut gelar liga ke-19 sepanjang sejarahnya.

Apa boleh buat, ketidakhadiran Ronaldo sudah membuat United menelan kekalahan di partai ke-dua. Banjir cedera mungkin menjadi alasan kekalahan yang banyak diperbincangkan media. Tapi, bila mengetahui bahwa dalam pertandingan tersebut United gagal mencetak gol dari titik putih, mayoritas orang akan berharap: coba masih ada Ronaldo!

Carrick gagal dalam kesempatan pertamanya menggantikan CR7 mengalgojoi penalti yang diperoleh United

Mencetak Gol dengan Berbagai Cara

Ronaldo sendirian memimpin daftar pencetak gol MU dalam 2 musim terakhir dan mencetak jumlah gol yang sama dengan Rooney untuk menjadi top-scorer kembar klub semusim sebelumnya. Ketergantungan United pada Ronaldo memang terlalu tinggi dan itu tidak dapat langsung tergantikan dengan mendatangkan pemain-pemain baru.

Ronaldo; Jago mencetak gol dalam open-play maupun set-pieces

Ronaldo adalah predator, di mana pun pria Portugal itu di mainkan. Itu karena dia memiliki atribut sangat lengkap yang membuatnya sangat berbahaya bila berada di lapangan. Dalam open-play, Ronaldo dipersenjatai dengan kecepatan dan bejibun trik untuk mengelabui pemain-pemain bertahan lawan. Ketika mendapatkan set-piece, United pun kerap dihadiahi gol olehnya, baik itu melalui tendangan bebas, tendangan penalti maupun tendangan sudut. Kemampuan-kemampuan tersebut menjadi tanpa ampun karena Ronaldo dianugerahi kedua kaki yang 'hidup' serta kepala yang 'tajam' sebagai mata tombak lompatan tingginya ketika menyambut bola-bola udara.

Dan ketika melawan Burnley Rabu kemarin, kemampuannya mengeksekusi penalti menjadi sangat dirindukan.

Tentu United Bisa, tapi Mulai Kapan?

Bukan musim ini saja United bermain tanpa pemain yang sangat berpengaruh di musim-musim sebelumnya. Dan seperti saat-saat itu, United pasti bisa menggantikan pengaruh Ronaldo pada performa tim di musim ini dan musim-musim selanjutnya.

Ada beberapa pemain yang dimiliki MU saat ini yang meski dalam level berbeda dapat diandalkan untuk mengambil alih peran Ronaldo. Untuk open-play, dinamika permainan Ronaldo sesungguhnya bisa diimpersonatorikan oleh Rooney. Tapi tampaknya musim ini Sir Alex lebih menginstruksikan meminimalisir tusukan dari sayap langsung ke kotak penalti dan mengikuti keinginan Rooney untuk menjadi penyerang tengah ke dua. Okelah, meski memerlukan waktu transisi, perubahan seperti ini memang diperlukan karena lawan pasti mudah membaca permainan United yang sudah diterapkan beberapa musim terakhir.

Yang jadi masalah adalah ketika United mendapat hadiah tendangan bebas atau penalti. Ryan Giggs memang lumayan fasih mengeksekusi tendangan bebas dan penalti, juga Scholes yang tendangan kerasnya bisa diandalkan menyepak bola dari titik putih; tapi usia tidak memungkinkan mereka selalu bermain. Adalagi Owen Hargreaves yang ketika masih fit dipercaya menggilir bola tendangan bebas dengan Ronaldo dan Giggs. Tapi Hargo diprediksi baru akan siap bermain secepat-cepatnya pada akhir tahun 2009. Bahkan, bila tak kunjung menunjukkan perkembangan positip, pemain kelahiran Kanada itu sudah siap mengakhiri karirnya secara dini.

Yang paling mungkin dilakukan adalah melatih pemain-pemain tersisa (yang berusia muda) agar bisa diandalkan untuk mengoptimalkan peluang bola mati yang dihadiahkan wasit. Potensi besar ada pada diri Anderson dan Zoran Tosic. Anderson sudah membuktikan dirinya layak dipercaya mengeksekusi free-kick, terutama yang diperoleh di sisi kiri jauh gawang lawan seperti yang diperolehnya ketika melawan Boca Juniors di Audi Cup 2009. Sejauh ini pun Anderson belum pernah gagal melaksanakan porsinya dalam adu penalti yang harus dilakoni United.

Kemampuan Tosic untuk set-piece juga termasuk eksepsional sebenarnya. Tendangan keras nan paraboliknya sering membobol gawang lawan Partizan Belgrade, klubnya sebelum United. Sayang, seperti juga Anderson, Tosic masih harus berusaha keras untuk selalu masuk starting-eleven pilihan SAF.
Gelar Juara bisa Pindah Tangan karena Bola Mati

Kualitas individu Ronaldo dalam sistem permainan memang bisa digantikan dengan kolektivitas tim. Tapi kegagalan mengeksekusi bola mati bisa menentukan perbedaan tim satu dengan lainnya dalam klasemen.

Contoh paling dekat ada dalam gim pembuka musim, ketika Chelsea berhasil menyamakan keunggulan Hull City dengan tendangan bebas Drogba untuk kemudian memenangi pertandingan dengan satu gol tambahan di ujung pertandingan. Pada pertandingan tengah minggu yang dilaksanakan sehari sebelum United bertandang ke Burnley pun Chelsea membalikkan keunggulan Sunderland melalui eksekusi penalti Frank Lampard. Hasilnya, Chelsea kini hanya kalah produktivitas gol dengan Tottenham yang bertengger di puncak klasemen sementara ketika United harus puas berada di tangga ke-10.

No Excuse, Please...

Dalam kampanye juara dua musim terakhir, MU memang selalu terseok-seok dahulu di awal musim. Tapi itu tidak bisa menjadi pembenaran ketidakmampuan pasukan 'Setan Merah' menaklukan klub promosi sekelas Burnley, meski klub yang markasnya hanya berjarak 33 km dari Old Trafford tersebut dikenal sebagai pembunuh raksasa merujuk kesuksesan mereka melaju hingga semifinal FA Cup musim lalu pasca menekuk Arsenal dan Chelsea. Sir Alex sendiri mengakui United bermain buruk meski mendominasi penguasaan bola. Dan untuk pertandingan seperti itu, detil-detil kecil seperti penalti kerap berperan masif menentukan skor akhir.

CR7 sudah menjadi CR9. United harus segera mencari pengganti peran-peran yang biasa dilakukannya.

Bek serba bisa John O'Shea pun sudah mengutarakan keinginannya untuk langsung tancap gas sejak awal. Alasannya jelas: kekuatan tim liga primer kini kian merata dan sudah tidak adanya lagi CR7 yang memiliki kemampuan untuk merubah keadaan. Sayang, MU kembali terseok dan harus menemukan 'sosok' pengganti pemain yang kini berjuluk CR9 itu. Tak peduli apakah 'sosok' tersebut menjelma dalam bentuk skema permainan tim yang lebih tajam atau individu tertentu. Yang penting, bisa diandalkan untuk mencetak gol terutama saat dibutuhkan!

Monday, August 10, 2009

Liga Inggris 09/10 Sudah Dibuka!

Akhirnya, liga sepakbola paling populer sejagad akan bergulir lagi. Bak sebuah panggung teater, tirai yang menutupi segala persiapan telah di buka pada 9 Agustus lalu. Tak tanggung-tanggung, pengereknya adalah dua titan yang diyakini akan menjadi aktor utama penghibur jutaan pasang mata hingga kelak ditutup kembali pada Mei 2010.

Titan pertama adalah juara bertahan Manchester United yang dinanti penampilannya setelah ditinggal dua pemain terbaiknya, Cristiano Ronaldo ke Real Madrid dan Carlos Tevez ke Manchester City.

Titan ke dua datang dari kota London, Chelsea FC! Juara piala FA 2008/2009 tersebut diyakini akan menjadi kandidat utama menjuarai liga Inggris 2009/2010 menyusul datangnya pelatih hebat Italia, Carlo Ancelotti.

United kembali Berival Utama Chelsea?

Hingga hari ini, kedua klub bisa dibilang menempati pole position dalam perburuan trofi liga primer bila dilihat dari aktifitas transfer. Chelsea menempati urutan teratas karena sudah mendatangkan 3 pemain baru tapi belum melepas seorang pun. Asumsinya, bila dengan skuad musim lalu saja mereka dapat bertengger di rangking tiga, tentu kekuatan mereka akan semakin dahsyat dengan tambahan tiga pemain baru tersebut. Belum lagi nama-nama beken seperti Shevchenko dan Pizarro yang kembali dari klub peminjam. Terbukti, dalam 'Community Shield' yang didapuk sebagai curtain raiser liga Inggris hari minggu yang baru lalu, pasukan biru London tersebut mampu mengalahkan Manchester United melalui adu penalti setelah berhasil menahan sang Juara musim lalu tersebut 2-2 dalam 90 menit sebelumnya.

Menjuarai Carling Cup 2009, Chelsea diyakini akan kembali menjadi rival utama MU di musim 09/10

Manchester United sendiri diprediksi akan menjadi kekuatan yang paling berpotensi menyaingi Chelski melihat (akan) berkurangnya soliditas lini tengah Liverpool setelah ditinggal Xabi Alonso serta (akan) kembalinya Arsenal ke masa transisi pascahengkangnya pemain kunci mereka: Emanuelle Adebayor dan Kolo Toure. Kedatangan trio Valencia-Owen-Obertan menggantikan CR7 dan Tevez dipercaya akan memberi dampak lebih baik ketimbang pembelian Glenn Johnson dan Alberto Aquilani oleh Liverpool untuk menggantikan Alvaro Arbeloa dan Xabi Alonso yang hijrah ke Santiago Bernabeu. Arsenal sendiri sampai saat ini baru membeli bek Belgia berusia 23 tahun, Thomas Vermaelen untuk menggantikan Toure dan tampak akan lebih memaksimalkan para young gunners ketimbang membeli pengganti Adebayor. Bila tidak sesegera mungkin melewati masa transisi tersebut, bukan tidak mungkin posisi klub asuhan Arsene Wenger tersebut di empat besar klasemen akhir musim akan digantikan klub-klub semodel Manchester City, Tottenham Hotspur, Aston Villa atau Everton.

Adu Penalti Selanjutnya untuk Kuszczak!

Sejak memenangi adu penalti versus Tottenham Hotspur di final Piala Liga 2008/2009, Manchester United sudah menjalani 3 drama tos-tosan lagi yang semuanya berakhir dengan kekalahan.

Pertama, Ben Foster gagal mengulangi kegemilangannya di final Piala Liga pada laga semifinal FA Cup 2008/2009 kontra Everton yang harus diselesaikan melalui adu penalti. Selanjutnya, dalam partai final Audi Cup versus Bayern Munich yang baru lalu, van der Sar tidak mampu berbuat sehebat yang dilakukannya pada final liga Champion 2008. Terakhir tentu saja pada hari minggu kemarin ketika lagi-lagi Ben Foster sukses dipecundangi oleh para eksekutor lawan. Memang tidak di kejuaraan mayor, tapi status juara tetap akan mendatangkan kebanggaan yang sangat efektif dalam mengangkat moral pemain.

Kembali semifinal FA Cup 2008/2009, saya sebenarnya berharap Tomasz Kuszczak yang akan berada di bawah mistar karena Ben Foster sudah mendapat 'jatah' rotasi yang maksimal pada ajang Piala Liga. Tapi saya bisa memaklumi ketika Sir Alex akhirnya memasang Foster sebagai shot-stopper. Tentu saja karena aksi-aksinya telah terbukti menambah koleksi lemari trofi Old Trafford.

Sementara di final Audi Cup 2009 van der Sar memang sudah semestinya menjaga gawang MU karena dia adalah kiper utama dan lawan yang dihadapi adalah raksasa Eropa. Tapi ketika penjaga gawang asal Belanda tersebut dinyatakan tidak dapat tampil melawan Chelsea di Community Shield, seharusnya Sir Alex memprioritaskan Kuszczak untuk menggantikannya. Alasannya tentu karena Ben Foster sudah mendapatkan kesempatan di dua pertandingan yang menentukan seperti tertulis di atas. Selain itu, Foster juga telah gagal memenangkan MU pada kesempatan terakhir.

Jadi, kini tidak ada alasan lain. Di masa depan, ketika akan menjalani partai menentukan di kompetisi minor yang berpotensi diakhiri dengan adu penalti, Kuszczak patut diutamakan bila tidak cedera. Kiper memang bukan unsur penentu satu-satunya dalam adu penalti, penampilan eksekutor juga memegang peran signifikan. Tetapi drama adu penalti adalah arena bagi para penjaga gawang menunjukkan nilai plusnya yang jarang terekspos dalam waktu normal.

Kuszczak harus mendapat porsi bermain seadil yang diperoleh Ben Foster

Karena itu, dengan Foster sudah menjalani banyak partai krusial sebelumnya, akan adil bila Kuszczak lebih diprioritaskan. Kecuali, bila Foster memang dipersiapkan menjadi penjaga gawang utama United menggantikan van der Sar yang akan gantung sarung tangan di akhir musim 09/10 seperti yang sering didengung-dengungkan. Bila benar begitu, sungguh amat disayangkan melihat potensi besar Kuszczak. Seharusnya, kompetisi memperebutkan kaos nomor punggung 1 di United diciptakan sealami mungkin sehingga kedua kandidat dapat mengeluarkan kemampuannya secara optimal tanpa terganggu hal-hal yang sifatnya non-teknis. Dengan begitu, di akhir musim, Manchester United akan mendapatkan pengganti Edwin van der Sar yang terpilih semata karena keunggulan teknis.

Berkewarganegaraan Inggris bukan berarti Foster harus diistimewakan.

Friday, July 31, 2009

Bayern Munich Juarai Audi Cup


Louis van Gaal berhasil membuktikan bahwa metode kepelatihannya lebih efektif untuk mendatangkan gelar juara ketimbang strategi Juergen Klinsmann yang memang masih hijau dalam dunia kepelatihan sepakbola. Meski hanya sebatas kejuaraan eksebisi, trofi Audi Cup sudah cukup menunjukkan kapasitas dirinya yang musim lalu sukses membawa AJ Alkmaar menjuarai liga Belanda mengungguli klub-klub yang secara tradisional lebih mapan seperti Ajax, PSV, dan Feyenoord.

Di partai final tersebut, Muenchen menunjukkan determinasi permainan yang konstan sepanjang 90 menit dilanjutkan kekuatan mental baja khas tim-tim Jerman dalam tos-tosan penalti melawan Manchester United. Meski kehilangan Lucio di jantung pertahanan dan berpotensi ditinggal pemain terpentingnya Franck Ribery (kabar terbaru, si Prancis justru mendapat penawaran teranyar dari klub rival di final tersebut sebesar 35 juta pounds), Mark van Bommel, cs terlihat siap untuk mengarungi musim 2009/2010 yang akan dimulai Sabtu ini. Martin Demichelis dan kemudian digantikan Daniel van Buyten menunjukkan kemampuan diri mereka dapat dengan sempurna menutup kepergian kapten Brazil ketika menjuarai piala Konfederasi 2009 ke Inter Milan. Hanya saja, Demichelis bermain terlalu berlebihan, ketika menghentikan laju Michael Owen yang mendapat umpan terobosan ciamik dari Paul Scholes. Bila saja bukan partai eksibisi, aksi Demichelis tersebut layak untuk mendapatkan hukuman kartu dan bukan tidak mungkin diusir keluar lapangan.

Tekel berbahaya yang bisa saja membuat Michael Owen kembali menghuni ruang perawatan, tempat yang sangat kerap disambanginya dalam beberapa tahun terakhir ini. Untungnya tidak!

Tentang Audi Cup

Audi Cup adalah sebuah turnamen persahabatan yang hanya berlangsung dua hari (29-30 Juli 2009) dengan mengambil Allianz Arena di kota Munich, Jerman -kandang Bayern Muenchen- sebagai venue. Selain Muenchen sebagai tuan rumah, Audi juga mengundang AC Milan, Manchester United, dan Boca Juniors untuk meramaikan hajat perayaan 100 tahun berkiprahnya mereka di kancah otomotif dunia.

Gelaran itu sendiri adalah puncak dari serangkaian kegiatan lain di seluruh dunia yang diadakan oleh agen-agen tunggal pemegang merek Audi masing-masing negara. Di tanah air, PT Garuda Mataram Motor (GMM) selaku Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Audi di Indonesia telah mengawali perayaan tersebut dengan menggelar pameran bertema 100 tahun Audi di Senayan City dari tanggal 21 April hingga 10 Mei 2009 lalu. Di acara itu dipamerkan seluruh jajaran Audi yang dipasarkan di Indonesia.

Selain pameran, GMM juga menggelar acara Audi 100th media gathering dalam rangka berbagi informasi kepada media, serta lomba esai foto dengan tema 'Indonesian Heritage' dengan hadiah total puluhan juta rupiah. Karya-karya para pemenang kemudian dipajang di Indonesian International Motor Show (IIMS) ke-17 yang berlangsung dari tanggal 24 Juli hingga 2 Agustus 2009 di Jakarta International Expo Pekan Raya Jakarta. Di ajang IIMS itu sendiri, nuansa tema 100 tahun Audi sangat terasa menyemarakkan stan GMM.

Rangkaian panjang kegiatan GMM tersebut akan diakhiri dengan turnamen golf amatir bertaraf internasional, Audi Quattro Cup Indonesia pada 16 Agustus di Jakarta yang merupakan bagian dari rangkaian kompetisi Audi Quattro Cup 2009 yang finalnya akan dilangsungkan di New South Wales Golf Club, Sydney, Australia 14-18 Desember mendatang.

Tahun lalu, pasangan bapak-anak David dan Ervan Purnama yang menjuarai Audi Quattro Cup Indonesia 2008 berhasil merebut juara pertama Grup B di ajang Audi Quattro Cup World Final 2008 yang digelar di Abama Resort, Tenerife Island, Spanyol yang berlangsung pada 17-21 Oktober 2008.

Warning untuk Milan

Posisi juru kunci Audi Cup yang didapat AC Milan karena kalah adu penalti dari Boca Juniors harus menjadi peringatan serius bagi klub Italia tersebut. Maklum, selain pada pertandingan sebelumnya dibantai 4-1 oleh Bayern Muenchen, Milan pun baru pulang dari turnya di Amerika Serikat dengan tertunduk malu lantaran dipecundangi oleh Chelsea, Inter Milan serta Club America. Apalagi, dua saingan terberat Milan di Serie A, Juventus dan Internazionale sukses memperkuat tim dengan kualitas mentereng.

Ketajaman AC Milan seperti terpangkas hampir setengahnya sejak ditinggal hengkang Kaka ke Madrid. Usaha mendatangkan bintang baru terhalang minimnya dana karena bahkan uang hasil penjualan Kaka pun sudah ludes untuk membayar hutang. Mungkin kini hanya Clerence Seedorf dan Pippo Inzaghi yang bisa sepenuhnya diandalkan melihat kebintangan Ronaldinho masih terhalang oleh kepribadiannya yang payah, serta belum dewasanya permainan Pato. Tapi, mengingat usia mereka yang sudah mendekati senja, sulit mengharapkan para veteran tersebut tampil konstan 90 menit setiap minggunya.

Mau tidak mau, bujet lebih harus dikeluarkan untuk mendatangkan paling tidak seorang lagi attacante kelas wahid. Nama-nama seperti Luis Fabiano dan Klaas Jan Huntelaar sebenarnya bisa saja sesegera mungkin mengenakan kaos merah-hitam Rossoneri. Syaratnya hanya satu: Silvio Berlusconi dan Adriano Galliani jangan terlalu pelit membelanjakan uangnya. Bila tidak, jangankan mengikuti jejak gemilang Pep Guardiola yang langsung meraih triplete di tahun pertamanya melatih, Leonardo bisa menjadi pelatih klub Serie A pertama yang harus meninggalkan kursi komandonya di musim 2009/2010!

Louis Fabiano (atas) atau Jan Klaas Huntelaar (bawah): Tunggu Milan sedikit Royal




Thursday, July 30, 2009

Anderson..son..son...

Hehe, seneng juga melihat Anderson mencetak gol non-penalti pertamanya buat MU. Dia berbakat, anak muda yang percaya diri, enerjik, cepat, agilitasnya tinggi, punya tendangan geledek, dulu bahkan disebut-sebut sebagai The New Ronaldinho. Tapi entah kenapa, sulit sekali buat dia mencetak gol. Golnya lawan Boca pun lahir lewat set-piece tendangan bebas, bukan open-play.

Masalahnya dia memang hanya kuat di kaki kiri saja, sehingga ketika ada kesempatan bikin gol, secara naluriah dia akan menendang bola dengan kaki kiri, padahal kaki kanannya ada di posisi yang lebih ideal. Meski cuma butuh sepersekian detik untuk mengubah kaki, itu sudah cukup bagi lawan untuk menutup ruang tembaknya.

Strategi Sir Alex menempatkan Anderson lebih ke dalam (sentral lapangan) adalah sebab lainnya. Dia lebih berkonsentrasi membangun permainan atau menutup pergerakan serangan lawan ketimbang mencetak gol. Anderson memang punya energi yang luber untuk melakukan itu. Nafasnya kuda, tenaganya badak!

Anyway, I'm very happy for that 1st gol, my man...!

Gaya Anderson menyepak bola yang kemudian menjadi gol pertamanya buat MU di waktu normal.

Entah karena terlalu gembira atau tak menyangka usahanya berhasil, Anders salah tingkah merayakan gol tersebut.

Monday, July 27, 2009

Manchester United Target Utama Bom 17 Juli 2009?

Kekecewaan terbesar fans United tanah air dalam sepuluh hari terakhir tentu adalah melayangnya kesempatan menyaksikan langsung Sir Alex Ferguson mengkomandoi permainan 'Setan Merah' di Gelora Bung Karno. Seorang sahabat saya bahkan berinisiatif untuk menjadikan momen ini untuk bereuni dengan teman-teman lamanya di Jakarta. Maklum, dia kini menetap di daerah dan sangat ingin bertemu teman-teman semasa kuliah dulu yang kini tinggal & bekerja di Ibukota. Apa boleh buat, keputusan batal itu lebih baik ketimbang montase gambar iklan yang saya ambil dari sebuah forum online ini jadi kenyataan:

Teror bom di Indonesia kini memang sudah menjadi cerita klasik, tak mengejutkan lagi. Ini juga yang mungkin menjadi salah satu pertimbangan manajemen Manchester United untuk bertandang ke tanah air, sehingga baru pada tahun 2009 memutuskan untuk datang. Padahal, jumlah fans United di Indonesia adalah ketiga terbesar di Asia setelah China & Korea. Bahkan sesungguhnya, fans-fans di Indonesia adalah yang paling 'tulus' karena menggemari 'Setan Merah' tanpa alasan premordial seperti halnya banyak fans dari China & Korea yang jatuh cinta pada tim asal Inggris tersebut karena MU sempat memiliki striker China Dong Fang Zhou dan kini masih diperkuat gelandang enerjik Korea Selatan, Park Ji-Sung.

Terorisme & Islam Radikal

Sebuah organisasi Islam bernama Jamaah Islamiyah (JI) disebut-sebut sebagai kelompok yang mendalangi berbagai aksi teror bom di Indonesia sejak tahun 2000. Uniknya, barbarisme tersebut justru memecah belah organisasi yang sudah dicap terlarang oleh pemerintah negara tempat didirikannya, Malaysia. Beberapa menolak perjuangan dengan cara tersebut, yang lain mendukung. Noordin M. Top adalah salah satu anggota yang pro. Dia kini diyakini kuat berada di balik tragedi yang menewaskan 9 orang dan merugikan panitia milyaran rupiah pada 17 Juli kemarin. Lalu, apa motifnya dan benarkah Manchester United adalah target utama para teroris itu?

Sketsa wajah terbaru Noordin M. Top

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia sehingga sangat mengherankan bagi para pemeluk fanatiknya bila Syariat Islam tidak diterapkan di sini. Terlebih lagi ada wacana yang berkembang secara global bahwa Asia Tenggara akan menjadi wilayah didirikannya Khilafah Islam selanjutnya dengan menggabungkan negara-negara di wilayah tersebut. Dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa dan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia adalah potensi yang menggiurkan untuk menjadi elemen penting bagi pusat kekuatan kekhilafahan. Dengan Islam kini berkembang menjadi ideologi anti Amerika-Liberalis menggantikan Uni Soviet-Sosialis dan diyakini akan berhadapan head-to-head di masa depan, segelintir fanatik menempuh jalur ekstrim agar kekhilafahan tersebut bisa segera terbentuk. Apalagi bila melihat bagaimana mayoritas negara di jazirah Arab di mana Islam berasal terlihat seperti macan ompong ketika berhadapan dengan Amerika yang menjadi pengawal setia Israel dalam konflik Timur-Tengah.

Jadi jelas, musuh para ekstrimis itu adalah segala sesuatu yang bertautan dengan Amerika, Israel (negara Yahudi), dan tentu saja para Kafir (non-muslim). Apakah Manchester United termasuk dalam kategori tersebut adalah hal yang menarik untuk ditelusuri.

Klub Inggris paling Amerika

Manchester United adalah klub sepakbola asal Inggris, negara yang selama ini sangat welcome dengan Islam di mana agama tersebut berkembang pesat di sana dalam beberapa dekade terakhir. Meski Inggris juga adalah negara utama bagi para murtadin dan para pelanggar Syariat di negara-negara Islam mencari suaka, ini tidak membuat mayoritas orang percaya bahwa keinggrisan seseorang atau sesuatu dapat menjadikan orang atau sesuatu tersebut sebagai target ekstrimis seperti Noordin.

Dari latar belakang tradisional memang kecil kemungkinannya MU dijadikan target utama. Tapi akan berbeda halnya bila sudut pandang dialihkan pada perkembangan klub tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Nike Gantikan Umbro

Logo swoosh yang sudah sembilan tahun belakangan ini setia menempel di apparel yang digunakan United adalah keluaran Nike Inc., sebuah perusahaan manufaktur yang berdiri tahun 1964 di Portland, USA. Dalam perkembangannya, Nike tumbuh menjadi merek yang sangat kuat dan merepresentasikan semangat Amerika yang bebas, berkualitas, dan inovatif. Bila Adidas simbol Jerman dalam keolahragaan, Nike adalah kebanggaan Amerika di bidang yang sama.

Ketika tahun 2000 Nike masuk untuk menggantikan Umbro memasok apparel, pasti tidak banyak orang menyangka itu adalah awal masuknya citra Amerika ke tubuh MU.

Keluarga Glazer Akuisisi United

Adalah Malcolm Glazer, seorang pengusaha Amerika berdarah Yahudi yang pada 2005 menjadikan kepemilikan Manchester United atas namanya. Tak kurang dari 800 juta poundsterling dikucurkan oleh pemilik First Allied Corporation tersebut. Keluarga Glazer sendiri adalah satu dari beberapa nama keluarga Yahudi yang menguasai dan pernah menguasai saham mayoritas di beberapa klub Premier League. Sebutlah Roman Abramovich, Alisher Usmanov, Alexander Gaydamak, dan Stan Kroenke di antaranya.

Selain United, Malcolm Glazer juga memiliki klub sepakbola Amerika, Tampa Bay Buccaneers

Stan Kroenke yang baru saja mengambil alih kepemilikan saham mayoritas Arsenal dari Alisher Usmanov

Seperti sudah banyak diketahui, Yahudi adalah musuh nomor satu bagi kebanyakan penganut agama Islam dan bangsa Arab, terlebih mereka yang fanatik. Bukan hanya karena konflik Timur-Tengah yang berkepanjangan dengan Israel yang dituding sebagai penyebabnya, Yahudi kabarnya sudah menjadi musuh Islam dan Arab bahkan sejak agama tersebut ada dan disebarkan. Berbagai ayat Al-Quran dan Hadith dikutip sebagai propaganda baik oleh para muslim radikal maupun pihak-pihak yang ingin memojokkan Islam. Ditambah Glazer berkewarganegaraan Amerika, tak ada alasan untuk para teroris tersebut 'melewatkannya' di Indonesia.

AIG Hilang, AON Terbilang

Manchester United memecahkan rekor sponsor dada ketika pada tahun 2006, AIG, sebuah perusahaan asuransi asal Amerika berinvestasi US$ 100 juta pada mereka, menggantikan Vodafone yang jatuh tempo di tahun yang sama. Krisis finansial yang menerpa Amerika setahun belakangan memporak-porandakan bisnis AIG dan membuat mereka tidak memperpanjang kontrak yang akan berakhir pada 2010. Penggantinya? Lagi-lagi sebuah perusahaan jasa asuransi & keuangan asal Amerika: AON. Kontraknya senilai US$ 133 juta/4 tahun juga adalah rekor baru dunia, melebihi jumlah yang dibayarkan merek-merek lain untuk menempel di jersey tim-tim elit lainnya.

Merek di atas akan digantikan oleh merek di bawah mulai musim 2010/2011

Artinya, jersey perayaan 100 tahun MU bermarkas di Old Trafford ini adalah jersey terakhir logo AIG bersemat

Jihad atau Semata Jahat?


Repot memang kalau hal-hal keagamaan sudah turut campur, obyektifitas pun menjadi bias. Para fanatik itu sudah sangat lancang mengatasnamakan Tuhan untuk melegitimasi nafsu setannya. Mereka berdalih berjihad, membela saudara-saudara satu agama (seukuwah) yang di bagian dunia lain diinjak-injak oleh entitas bernama Amerika. Padahal, kalau tindakan itu memang berdasarkan pembelaan terhadap saudara-saudara seukuwah, bukankah banyak tenaga-tenaga kerja Indonesia terutama wanita yang dianiaya hingga dibunuh ketika bekerja di negara seperti Malaysia dan Arab Saudi? Mana pembelaan mereka untuk para pahlawan devisa negara seperti Siti Hajar atau yang paling baru: Antin Suprihatin binti Solehudin? Apakah mereka menutup mata karena pelaku penganiayaan berasal dari negara dimana agama mereka muncul? Atau karena organisasi dan dalang peristiwa-peristiwa jahat ini berasal dari negara tersebut? Hahaha...jihad macam apa itu???!

Siti Hajar, muslimah yang juga butuh pembelaan saudara-saudara seukuwah.

Garuda di Dada

Indonesian All Star
yang sudah bersiap menghadapi MU pun harus juga menanggung kecewa. Namun, Garuda tentu bukan hanya untuk dibela di atas lapangan. Garuda bukan hanya untuk disematkan di dada kiri. Garuda adalah lambang negara, simbol harga diri bangsa yang harus dibela kapan saja dan di mana saja. Sekarang adalah momen yang paling pas untuk seluruh rakyat Indonesia membuktikan kepada seluruh dunia sebagai negara beradab yang tidak menyetujui terorisme dan tidak melindungi para teroris. Bila di jaman revolusi kemerdekaan kita dipersatukan untuk melawan penjajah dalam wujud Belanda dan Jepang, maka kini penjajah itu bertransformasi dalam diri para teroris berjanggut dan berjubah. Ini bukan lagi masalah agama karena masa depan bangsa Indonesia dipertaruhkan. Hancur-jayanya NKRI ada ditangan rakyat, bukan pada segelintir fanatik yang bahkan sudah mengkhianati ajaran agamanya sendiri.
Ayo, nyanyikan 'Garuda di Dadaku'-nya Netral lantang-lantang, dengan mengubah sedikit lirik refrain-nya:
"Garuda di dadaku...Garuda kebanggaanku..
Kuyakin KALI ini pasti menang!
Kobarkan semangatmu...Tunjukkan PERSATUANMU..
TERORIS PASTI BISA KITA GANYANG!"

Friday, July 10, 2009

Persipura & Balada Sepakbola Indonesia

Tim Mutiara Hitam: Juara yang sedang Tersandung Masalah

Hari ini, Jum'at tanggal 10 Juli Komdis PSSI memanggil beberapa pemain & pengurus Persipura terkait keputusan WO tim bersangkutan pada pertandingan final Copa Dji Sam Soe Indonesia 2009 (CDSSI 2009), 27 Juni silam. Seperti diketahui, dalam duel vs Sriwijaya FC waktu itu, Persipura melakukan WO karena merasa diperlakukan tidak adil oleh wasit.

Hadir di kantor PSSI pelatih Jacksen F. Tiago serta Walikota Jayapura yang juga adalah Ketua Umum Persipura M.R. Kambu ditemani kapten Edward Ivakdalam beserta wakilnya Jack Komboy, asisten pelatih Metu Duaramury serta manajer tim Rudi Maswi . Tujuan pemanggilan tersebut adalah untuk mencari tahu siapa yang mendalangi tim Mutiara Hitam melakukan WO. Tidak main-main, PSSI mencap oknum tersebut sebagai anti-fair-play. Selalu, sepakbola Indonesia lebih menarik untuk hal-hal seperti ini ketimbang permainannya.

Siapa sih yang Anti-fair-play?

Waktu itu tanggal 08 Juni 2008, ketika CDSSI 2009 sudah memasuki babak perempatfinal, Badan Liga Indonesia (BLI) melalui suratnya No. 0662/a/04/bli-31/v/2009 menunjuk Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring sebagai venue penghelat final pengganti Stadion Utama GBK. Sekilas tidak ada yang salah dari penunjukkan ini. Tapi melihat mayoritas masyarakat sepakbola Indonesia yang masih mudah terbakar emosinya hanya karena kontroversi sepentol korek, BLI seharusnya melakukan eksaminasi berulang dan riset mendalam sebelum mengeluarkan keputusan. Jujur saja, publik sudah merasa ganjil akan penunjukkan Jakabaring ini, sedang sang empunya stadion, Sriwijaya FC, masih bertahan di kompetisi bersama dengan tim-tim seperti Persibo Bojonegoro, Persitara Jakarta Utara, Persijap Jepara, PSMS Medan, Persipura Jayapura, Persija Jakarta, dan Deltras Sidoarjo.

Oke, pasti berlaku standar-standar tertentu untuk menilai apakah suatu stadion berikut infrastruktur & suprastruktur yang menyertainya layak atau tidak untuk menggelar partai final, Tp, apakah tidak ada stadion yang benar-benar netral/berada di region yang berbeda dengan tim-tim yang masih bertahan di kompetisi sehingga prinsip fair-play lebih terepresentasi?

Sebutlah stadion Palaran yang berada di kota Samarinda. Oleh www.worlstadiums.com, stadion bertaraf Internasional yang dipakai ketika Kalimantan Timur menghelat PON XVII tersebut menempati urutan 2 daftar stadion terbaik & terbesar di Indonesia. Jadi, untuk kualitas stadion Palaran memenuhi kualifikasi untuk menggelar final CDSSI 2009.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah netralitas wilayah. Dari 8 tim kontestan perempat final CDSSI 2009 tidak ada yang berasal dari kota Samarinda, bahkan Kalimantan Timur. Letak pulau Kalimantan juga berada di tengah-tengah sehingga lebih adil bagi para suporter yang akan mendukung langsung bila tim kebanggaannya melangkah ke final.

Kalau akhirnya BLI berdalih bahwa stadion Palaran sudah didaulat menjadi tempat final Divisi Utama LI 2009 sehingga harus ada 'pemerataan' pun Kalimantan masih memiliki banyak stadion lain yang kualitasnya masih masuk dalam standar venue sebuah final. Stadion Kudunga di kota Tenggarong salah satunya. Tapi untuk 'kejadian tak terencana' seperti pemindahan venue final ini, isu 'pemerataan' seharusnya bisa diabaikan. Wewujudkan fair-play seideal mungkin jauh lebih penting. Bila komitmen fair-play tidak diterapkan sejak awal, definisi di fase-fase selanjutnya akan bias. Kalau makna serta batasannya saja tidak jelas, bagaimana bisa menentukan seseorang itu pro-fair-play atau anti-fair-play?

Stadion Palaran kebanggaan Samarinda. Terbesar di Indonesia setelah GBK

Ketidakpuasan Berkulminasi WO


Musim ini Persipura tampil ciamik untuk ukuran sepakbola nasional. Edward Ivakdalam memimpin rekan-rekannya mendominasi hampir di setiap pertandingan kandang maupun tandang. Tak heran, saat kompetisi belum berakhir, gelar juara ISL 2008/2009 sudah ada digenggaman.

Tim Mutiara Hitam sepertinya akan mengulang prestasi hebat Sriwijaya FC yang musim lalu sukses menyandingkan gelar liga dengan trofi copa. Skenarionya pun tampak akan berakhir dramatis dengan merebut langsung trofi dari Laskar Wong Kito, setelah di liga mereka juga memastikan gelar setelah menekuk sang juara bertahan di stadion Mandala.

Apa lacur, skenario tinggal skenario. Sebuah insiden menjelang genap sejam pertandingan ketika kiper Sriwijaya FC Ferry Rotinsulu menabrak dari belakang gelandang Persipura Ian Kabes dalam kotak penalti dibiarkan Purwanto, wasit final itu. Play on..bola kemudian bergulir ke arah Ernest Jeremiah yang spontan membalikkan arahnya ke dalam gawang lawan dengan sepakan terukur. Dasar nasib, Purwanto lagi-lagi menolak meniup peluit tanda terjadi pelanggaran ketika bola tendangan Ernest tadi urung masuk gawang karena terhalang tangan bek tim rival, Joel Tsimi. Kali ini, bintang-bintang Papua tidak terima. Ramai-ramai mereka menyerbu wasit dan mengerubutinya. Tak mampu mengendalikan emosi, Ernest pun menanduk Purwanto. Wasit asal Kediri itu kemudian langsung mengeluarkan kartu merah untuk pemain asal Nigeria. Tak ayal, kejadian tersebut memicu para pemain Persipura lainnya untuk meninggalkan lapangan dan menolak kembali bertanding bila kartu merah tersebut tidak dicabut dan memberikan hadiah penalti bagi mereka. Beberapa tokoh sudah coba membujuk. Tapi mau bilang apa, ajakan Ketua PSSI Nurdin Halid hingga permintaan Gubernur Papua Barnabas Suebu gagal mencairkan hati Solossa Brothers and The Gank yang sudah membatu.

Saya tidak melihat peristiwa tersebut sebagai kebodohan atas dasar solidaritas buta semata, itu adalah titik puncak dari kesabaran yang ada batasnya. Banyak orang di luar sana masih dengan sinis menyoroti masalah mental putra-putra tanah Cendrawasih. "Sukses sedikit mabuk-mabukan, sukses sedikit main perempuan, bagaimana mau maju...???!" begitu sindir mereka.

Ahh...saya justru punya pendapat berbeda. Kasus ini justru menjadi bukti kebesaran hati Ricardo Salampessy, cs. Mereka sangat menjunjung tinggi sportivitas. Dengan gagah berani mereka menyambangi kandang macan untuk merebut gelar langsung dari tangan Sang Juara Bertahan. Meski banyak suara sumbang menyuarakan ketidakadilan, mereka terus jalan. Meski banyak argumen mengindikasikan kecurangan yang terencana rapi, mereka tuli. Bagi mereka sepakbola adalah hidup, titik.

Prinsip itulah yang selama ini secara natural menempa pesepakbola-pesepakbola Papua. Sepakbola adalah tentang harga diri. Maka, ketika kerja keras di lapangan dilecehkan oleh sebuah konspirasi, jangan salahkan kalau kemudian mereka menentukan langkah sendiri. Mereka tahu peraturan. Perjalanan karir sepakbola mereka tidak melulu latihan taktik, teknik, dan fisik. Tapi, diatas lapangan, tidak ada yang mengenal peraturan sebaik para pemain itu sendiri. Mereka punya insting yang tercipta secara kimiawi melalui proses yang berulang-ulang untuk menentukan mana yang seharusnya gol dan yang tidak gol, mana yang hand-ball dan tidak hand-ball, mana yang pelanggaran dan bukan pelanggaran, juga mana yang merupakan kesengajaan atau kealpaan.

Copa Dji Sam Soe-poli?


Lalu, benarkah ada sebuah konspirasi? Kalau kasus suap dunia sepakbola di Italia mendapat sebutan Calciopoli, maka jika benar ada skandal pengaturan pertandingan (hasil kompetisi) Copa Dji Sam Soe Indonesia, apa dong namanya? Copa Dji Sam Soe-poli? Hahaha...membahas hal ini lebih menarik ketimbang meneruskan argumen benar tidaknya tindakan Persipura mengingat sudah adanya hukum positif dalam dunia sepakbola yang tidak membenarkan sebuah tim untuk walk-out (WO). Jika nekad WO, mereka harus tahu konsekwensinya, dan Persipura sudah menyatakan siap untuk bertanggung-jawab dengan datang memenuhi panggilan Komisi Disiplin tadi sore. Salut!

Kembali ke Copa Dji Sam Soe-poli (CDSS-poli).

Kalau masalah penunjukkan venue pengganti saya melihat kurangnya pertimbangan netralitas, di partai final itu sendiri saya justru tidak melihat sesuatu yang konspiratif yang bisa dikritisi lebih lanjut. Wasit yang biasanya dijadikan alat bagi para konspirator untuk menentukan pemenang, dalam pertandingan ini justru menjadi anti-thesis.

Purwanto sang pengadil adalah wasit papan atas di negeri ini. Sudah mendapatkan lisensi C1 sejak 1993, kapasitas dan kredibilitas lelaki yang pernah menjadi asisten wasit FIFA pada 1995 itu tentu tidak diragukan lagi. Sebelum memimpin partai final CDSSI 2009, Purwanto berpengalaman memimpin berbagai partai penentuan lainnya, seperti final Liga Indonesia musim 2007 (Sriwijaya FC Vs PSMS Medan) final LI 2005 (Persija FC Vs Persipura FC), dan final LI 2002 (Persita FC Vs Pertrokimia Putra Gresik).

Pria jangkung berkumis tipis itu adalah juga peraih penghargaan Bintang Adi Manggalya Krida dari Pemerintah berkat jasanya di bidang olahraga, khususnya dunia perwasitan. Penghargaan yang membuatnya kini sejajar dengan para pelaku olahraga terbaik di Indonesia. Di antaranya ada Markis Kido dan Hendra Setiawan (bintang Parama Krida Utama Kelas I), atau para pelatih terbaik Indonesia seperti Sigit Pamungkas dan Marlev Mainaky (Bulutangkis), Eni Nuraini Martodihardjo (atletik), Fictor Gideon Roring (basket), dan Wahyudi Hidayat (balap sepeda) yang semuanya juga mendapatkan bintang Adimanggalya Krida. Dari profesi wasit sendiri, Pergunan Tarigan (angkat besi), Sardjito dan Sumartojo (atletik), serta Dra Linda Darnela (senam) adalah nama-nama yang juga mendapatkan bintang dan penghargaan serupa dengan Purwanto.

Jadi, sangat tidak beralasan bila kita menuduh PSSI/BLI melakukan kekejian seperti itu. Sebelum kita baca kesaksian dari Ario Yosia tentunya. Dalam sebuah wawancara, kolumnis www.bolanews.com tersebut mengaku pernah dicurhati begini oleh Purwanto: "Jujur saja, Mas, saya ingin berhenti. Saya sudah tua." Secara objektif Ario juga menilai fisik Purwanto sebenarnya sudah tak layak lagi memimpin laga sekelas final Copa. Beberapa tahun silam saat meliput acara penyegaran wasit PSSI di Bandung, Ario menyaksikan sendiri bagaimana sang pengadil gagal melakoni tes fisik. Dia sinyalir, Purwanto tetap dipaksa bertugas demi pencitraan korps wasit Indonesia. Purwanto menjadi korban ketidakmampuan PSSI mencetak wasit-wasit berkualitas yang integritasnya dipercaya klub-klub kontestan, tulisnya di: http://www.bolanews.com/edisi-cetak/nasional6.htm.

Kondisi itu juga diamini oleh ketua Badan Wasit Sepakbola Seluruh Indonesia (BWSI), Bernard Limbong di Jakarta kepada kapanlagi.com pada 2 Juli 2009. "Purwanto adalah wasit terbaik Indonesia saat ini. Dan partai final Copa Indonesia 2008/09 itu adalah partai terakhir yang dia pimpin, karena usianya sudah melewati masa wajib sebagai wasit. Ia bekerja dengan maksimal. Tidak ada yang salah dengan Purwanto," jelas Limbong.

Membatasi usia seseorang untuk melakukan suatu tugas tertentu tentu dengan pertimbangan agar orang itu dalam bertugas optimal. Kalau dengan sengaja menugaskan seseorang yang usianya sudah melewati ambang batas dan orang tersebut secara tersurat sudah menyatakan keinginannya untuk berhenti, adakah tujuan tertentu yang ingin dicapai oleh PSSI secara terselubung??! Hmm....entahlah! Paling tidak, kasus ini pasti turut menjadi pertimbangan bagi Reuters untuk menilai kondisi sepakbola Indonesia di musim yang baru saja berlalu sebagai 'a shambolic season' atau musim yang kacau-balau! Tidak percaya? Kunjungi saja: http://football.uk.reuters.com/world/news/SP536092.php

Wasit Purwanto. Partai Perpisahan nan Kontroversial.

Sunday, July 05, 2009

Perjudian Tukang Parkir & Samba-Samba Muda United

Tepat hari minggu seminggu yang lalu, sepulang dari melihat pameran industri kreatif Indonesia di JCC, saya berbincang sebentar dengan seorang tukang parkir.

"Nanti malam pegang mana mas...??!", tanya dia mengacu pada final piala konfederasi 2009, menyapa sembari menghampiri saya untuk mengutip ongkos parkir.

"Amerika pak, ngeri, banyak rudalnya...", jawab saya setengah bercanda, sambil mengeluarkan ongkos parkir.

"Wah..padahal saya pasang Brazil..", sambarnya cemas.

Hehehe..kecemasan yang tampak nyata dari raut mukanya itu bikin saya tersenyum puas sepanjang perjalanan menuju fX buat liat trofi Liga Inggris yang dipamerin di sana sebagai bagian dari kegiatan Asia Tour ManchesterUnited.

Maksud hati pengen liat langsung trofi di atas, apa daya udah dibawa ke Singapura :P

Memoribilia graphic book ini pun gak mampu melipur kecewa...

Akhirnya foto bareng deh sama 'pemain-pemain United', hohoho....!!!

Jawaban saya atas pertanyaan tukang parkir tersebut jelas sedikit sekali kadar seriusnya. Tapi, menyaksikan babak pertama final mungkin membuat tukang parkir tersebut banjir keringat dingin. Dia tentu mengira saya adalah peramal skor bola yang gila jagonya. Padahal, ketika Landon Donovan memperlebar keunggulan AS yang dicetak oleh Clint Dempsey, saya masih tidak percaya AS bakal jadi juara untuk pertama kalinya.

Tentu saya mengangkat topi tinggi-tinggi pada pertahanan AS yang begitu militan melindungi gawangnya, plus efisiensi barisan penyerangnya dalam menggalang serangan balik. Tapi, Inggris yang biangnya kick&rush pun saya yakin akan keteteran menghadapi tim Samba yang satu ini. Mereka bukan seniman bola yang mengandalkan keunggulan teknis saja, tapi juga punya kekuatan fisik yang luar biasa lewat postur para pemainnya yang rata-rata tinggi besar.

Felipe Melo nan Memukau

Jangkar andalan baru Selecao. Namanya boleh Melo, tapi maennya....sangar bow!!!

Doi juga penguasa lini tengah Fiorentina. Bakal mantap kayaknya kalo duet sama Carrick atau Anderson!

Diantara deretan juara-juara tersebut, saya sangat kesengsem melihat Felipe Melo yang bersama Gilberto Silva menjadi kumparan yang sangat solid dalam dinamo permainan Selecao. Sebagai bukan penonton Serie A, saya tentu tidak familiar dengan pemain ini. Ternyata, Melo adalah andalan Fiorentina ketika musim lalu berhasil merebut jatah liga Champion dari AS Roma. Dan tak heran, ketika seminggu terakhir ini berkunjung ke berbagai portal sepakbola, sang centrocampista diberitakan menjadi rebutan banyak klub besar. Inter, Juventus, dan Arsenal dikabarkan sedang menjajaki pembelian pemain yang klausul buy-out-nya dipatok diharga 25 juta euro tersebut.

Brazil Coming from Behind

Oke, kekaguman saya cukup sampai disitu mengingat saat ini hampir mustahil Sir Alex Ferguson mencari seorang jangkar tambahan mengingat menumpuknya pemain yang dapat bermain di posisi tersebut. Untuk mengantisipasi Owen Hargreaves pensiun dini pun manajemen United lebih memilih Yaya Toure dari Barcelona

Seperti diketahui, Brazil berhasil membalikkan kedudukan untuk kemudian back-to-back menjadi juara piala Konfederasi melalui dua gol Luis Fabiano & satu tandukan kapten Lucio. Gelar ini bermakna ganda karena juga membawa Brazil mengkudeta Spanyol dari tampuk peringkat teratas FIFA.

Brazil kembali ke puncak dunia!

Melihat banyaknya talenta Samba yahud lainnya yang tidak masuk dalam seleksi kompetisi kali ini menyiratkan bahwa Brazil masih yang terbaik di dunia saat ini. Suratan yang akan terlegitimasi bila tahun depan mereka berhasil membuktikan diri sebagai negara yang dapat menjadi juara di benua mana pun Piala Dunia dilaksanakan. Satu yang saya harapkan tentu saja Setan-Setan Merah Samba seperti Anderson, Possebon, Rafael, dan Fabio termasuk di dalamnya!

Rodrigo Possebon. Musim 09/10 kabarnya akan dipinjamkan ke klub liga Portugal.
Bila rajin jadi starter, kesempatannya masuk tim Samba ke Afrika Selatan sangat besar.

Rafael-Fabio da Silva. Sulit geser Maicon-Dani Alves serta Andres Santos-Marcelo sbg full-back sayap Selecao.
But, nothing's impossible, lads!

Anderson Oliveira. Mendapat persaingan baru dari Melo di lini tengah timnas Brazil.
Keep up agile work man!

Thursday, May 28, 2009

Congratulations, Catalan!

Oke, Barcelona...selamat, kalian memang layak juara kali ini!
See you at Santiago Bernabeu next season, we'll get our thropy back at your home country!

Thursday, May 21, 2009

Team of The Weak

Hari minggu ini United akan menjalani laga pamungkas musim 08/09 di markas Hull City, klub tempat Manucho dipinjamkan.

Mengingat pertengahan minggu depan CR7, cs. akan melakoni laga final ECL vs Barcelona, sangat beralasan kalo SAF menurunkan tim non-inti. Hal ini yang banyak disorot terutama oleh klub-klub yang masih berjuang menghindari zona degradasi. Mereka barharap United bersikap sportif dengan menurunkan tim terbaiknya melawan Hull mengingat hasil yang bakal diperoleh tim tuan rumah akan beimbas pada di mana mereka berlaga musim depan: tetap di Premiership atau turun ke Championship divisi I.

Not a Big Deal, lahh...

Ini sebetulnya bukan hal besar, tetapi tetap penting karena menyangkut sportifitas & fair-play, sesuatu yang dijunjung tinggi oleh sepakbola Inggris & Manchester United. Bukan hal besar, karena meski tercantum dalam sebuah peraturan bahwa setiap tim harus menurunkan tim terbaiknya saat bertanding, tapi Richard Scudamore sudah mengatakan bahwa adalah hak bagi SAF untuk menentukan siapa saja yang akan turun mewakili timnya dilapangan. Tetapi SAF juga mewakili citra liga Inggris secara keseluruhan. Bila timnya tampak bermain ogah-ogahan kelak dan membuat Hull dapat meraih kemenangan, tentu itu akan mencederai nilai-nilai sportifitas & fair-play.

Intinya adalah Tim, bukan Semata Tim Inti

Ya, semuanya memang kembali pada tim. Siapa pun pemain-pemain yang turun kelak harus bermain dengan kemampuan terbaik. Thomas Kuszczak, Richard Eckersley, Ritchie de Laet, Rodrigo Possebon, Lee Martin, Zoran Tosic hingga Danny Welbeck dan Kiko Macheda tetap bisa menjadi kesatuan yang tangguh bila bermain sepenuh hati. Itu akan lebih menunjukkan rasa hormat kepada tim-tim lain yang berjuang untuk survive hingga detik terakhir ketimbang bila van der Sar, Vidic, Carrick, Ronald0, atau Rooney dipaksakan turun tapi kemudian bermain setengah hati dan seperempat bodi karena pikiran mereka sudah ada di Roma.

So, bukan masalah besarlah kalo our team of this week's the team of the weak!


Wednesday, May 20, 2009

1 8ELIEVE 4 ; Three Down, One to Go!

Barclays English Premier League 2008/2009










Carling Cup 2008/2009







FIFA World Club Championship 2008